Catatan Visitasi Akreditasi: Kesan dan Pembelajaran

 

Akreditasi merupakan proses evaluasi yang sistematis dan independen terhadap suatu organisasi atau institusi untuk memastikan bahwa mereka memenuhi standar yang telah ditetapkan. Proses ini sangat penting, tidak hanya untuk institusi pendidikan tetapi juga untuk berbagai lembaga layanan sosial seperti Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) atau panti asuhan.

“Akreditasi adalah suatu mekanisme penjaminan mutu yang dilakukan oleh lembaga independen yang memiliki otoritas untuk melakukan penilaian terhadap kinerja dan kelayakan suatu organisasi. Tujuan utama akreditasi adalah memastikan bahwa lembaga yang diakreditasi mampu memberikan layanan yang berkualitas dan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.”

Akreditasi adalah alat penting untuk memastikan kualitas dan standar layanan di berbagai lembaga, termasuk LKSA. Meskipun prosesnya menantang, manfaat yang diperoleh sangat signifikan. Dengan akreditasi, lembaga dapat meningkatkan mutu layanannya, membangun kepercayaan publik, dan memastikan transparansi serta akuntabilitas dalam operasionalnya. Akhirnya, akreditasi bukan hanya tentang memenuhi standar, tetapi juga 

Kembali Aktif Setelah 5 Tahun: Peran HARUM dalam Akreditasi LKS Kota Malang

Setelah hampir 5 tahun absen dari tugas sebagai asesor dan urusan akreditasi, sejak awal tahun 2024, saya kembali menggali catatan lama, meneliti instrumen akreditasi, dan merujuk pada "kitab suci" panti asuhan atau LKSA, yaitu Standar Nasional Pengasuhan Anak (SNPA).

Forum LKS Kota Malang meluncurkan program unggulan tahun 2024 untuk persiapan dan pendampingan akreditasi LKS/LKSA. HARUM, sebagai salah satu pengurus sekaligus inisiator program ini, berperan aktif dalam memotivasi LKS di Kota Malang untuk mengikuti akreditasi. 

Alhamdulillah, pada tahap awal akreditasi ini, 17 LKS/LKSA Kota Malang berpartisipasi, baik yang melakukan re-akreditasi maupun yang baru pertama kali mengajukan. HARUM tidak hanya mendorong, tetapi juga mendampingi dalam proses kajian instrumen hingga teknis pengisian. Bahkan saat asesor melakukan visitasi, HARUM tetap hadir mendampingi.

Setelah hampir 5 tahun vakum, tidak ada LKS di Kota Malang yang mengajukan akreditasi. Namun, awal tahun ini terjadi peningkatan yang signifikan, bahkan melampaui jumlah LKS di Kabupaten Malang dan Kota Batu.

Catatan Visitasi Akreditasi: Kesan dan Pembelajaran

Saat mendampingi asesor dalam visitasi akreditasi, HARUM mengunjungi 17 LKS. Dari jumlah tersebut, HARUM mendampingi 4 LKS: 1 LKS disabilitas dan 3 LKSA. Meskipun jumlahnya terbatas, kesan yang didapat sangat berarti.

1. LKS Bhakti Luhur

LKS Bhakti Luhur adalah 'Champion' dalam berbagai aspek: program, SDM, dan manajemen organisasi. Gedung kantor terpisah dari asrama yang terdiri dari hampir 40 wisma, menampung 10-30 klien per wisma. Terdapat pusat terapi untuk berbagai jenis disabilitas, gedung sekolah inklusi, serta sekolah tinggi pastoral, yang semuanya berada di lahan sekitar 5 hektar. Kami berkunjung ke gedung kantor yang menjadi pusat koordinasi, pengendalian program, serta arsip. Kami terkesan dengan ruang arsip klien yang sangat rapi dan terkelola dengan baik, menyimpan ribuan arsip klien dengan lengkap dan mudah diakses. Dedikasi tinggi seluruh staf, keramahan, serta prestasi para suster sangat membekas di hati.

2. LKS Sunan Kalijaga

LKS Sunan Kalijaga adalah LKSA bercorak pesantren, menampung sekitar 30 anak yatim, piatu, atau yatim-piatu. Aktivitas utama adalah kegiatan ala pesantren. Meskipun ketat dalam penerimaan anak (hanya menerima anak yang benar-benar tanpa orang tua atau dengan orang tua tunggal), peran pengasuh sebagai figur pengganti orang tua kurang menonjol, baik secara faktual maupun administratif. Pola ini umum terjadi di banyak LKSA, namun menimbulkan kerentanan pada anak, terutama yang mengalami trauma atau masalah psikis dan mental.

3. LKSA Sunan Giri

LKSA Sunan Giri dikelola oleh keluarga. Dalam 10 tahun terakhir, tidak ada progres signifikan pada tata kelola LKSA ini. Enam aspek standar pengelolaan (program, proses, manajemen organisasi, SDM, sarpras, dan hasil layanan) tidak banyak berubah. Program layanan masih sebatas menampung anak-anak, pemenuhan kebutuhan fisik dasar, menyekolahkan, dan kegiatan memasak dilakukan oleh anak-anak. Kegiatan pengasuhan belum terlihat jelas. Kami berharap dokumen administrasi pelayanan tetap dijalankan dengan baik.

4. LKSA Aisyiyah

LKSA Aisyiyah, seperti LKSA Muhammadiyah lainnya, lengkap, bersih, dan rapi, baik sarana prasarana maupun dokumen pengarsipannya. Program ramah anak menarik dan kreatif, mendorong partisipasi anak-anak dalam segala hal yang berhubungan dengan kepentingan mereka. Namun, ada kesamaan dari ketiga LKSA yang kami kunjungi: kurangnya, atau bahkan tidak adanya, keterlibatan orang tua atau keluarga anak dalam proses pengasuhan. Keluarga adalah tempat terbaik bagi anak. Peran LKSA seharusnya memulihkan hubungan anak dengan keluarga mereka, bukan hanya memberikan kenyamanan.

Transformasi Akreditasi: Perubahan dan Tantangan Baru

Setelah hampir lima tahun absen dari urusan akreditasi, banyak perubahan yang terjadi. Teknologi informasi kini mendominasi pelaksanaan akreditasi. Pengisian instrumen atau borang yang dulu manual kini telah online, memudahkan dan mempercepat prosesnya. Selain perubahan teknis, terjadi pula pergeseran substansi yang mencerminkan adaptasi terhadap situasi terkini.

Dalam hal substansi, perubahan paling mencolok terlihat pada jumlah item instrumen penilaian kelayakan LKS. Pada tahun 2019, terdapat 55 item, sedangkan instrumen terbaru mencakup 50 item. Aspek program yang dulu terdiri dari 27 item kini hanya 11 item. Sebaliknya, aspek proses meningkat dari 10 menjadi 11 item. Aspek manajemen organisasi tetap konsisten dengan 8 item, sementara aspek sarana prasarana, SDM, dan hasil masing-masing meningkat secara signifikan: dari 4 menjadi 8, dari 3 menjadi 8, dan dari 3 menjadi 4 item.

HARUM merasa beruntung tidak hanya karena dilibatkan sebagai asesor, tetapi juga karena mendapatkan pembekalan melalui berbagai bimbingan teknis dan pemantapan. Terlibat dalam monitoring pelaksanaan SNPA dan penyusunan instrumen akreditasi untuk LKSA non panti, HARUM memahami semangat para penyusun awal. Spirit SNPA menekankan transformasi LKSA, pengembangan peran dan fungsi LKSA untuk tidak hanya mengintervensi anak, tetapi juga memperkuat keluarga dan mencegah keterpisahan anak dari keluarganya.

LKSA dituntut untuk menguasai pengetahuan dan keterampilan pekerjaan sosial, termasuk memiliki pekerja sosial profesional. Layanan LKSA kini lebih menyerupai klinik kesehatan, di mana klien bisa rawat inap atau rawat jalan tergantung pada jenis dan tingkat keparahan masalahnya. Namun, dalam praktiknya, banyak LKSA masih menerapkan pendekatan seragam tanpa observasi yang memadai karena keterbatasan kualitas dan kuantitas SDM. Peran pengasuh LKSA sebagai pengganti orang tua masih jauh dari ideal.

Potret layanan anak di LKSA ini harus menjadi perhatian semua pihak. Akreditasi berfungsi sebagai jembatan menuju layanan LKSA yang sesuai dengan standar nasional pengasuhan anak. Akreditasi memotret kondisi layanan dan memberikan rekomendasi perbaikan. Untuk menghasilkan potret yang berkualitas, diperlukan instrumen yang tepat dan asesor yang memahami instrumen serta tujuan akreditasi.

HARUM merasakan perbedaan yang signifikan saat kembali mengikuti proses akreditasi di awal 2024. Dukungan dan perhatian pemerintah daerah serta pencapaian target LKS yang terakreditasi meningkat secara signifikan. Namun, refleksi dan evaluasi tetap diperlukan: apakah tujuan akreditasi untuk mengembangkan peran dan fungsi LKS telah tercapai? Sejauh mana progresnya? Apa alat ukur transformasi LKSA? Apakah asesor telah menjadi agen transformasi atau sekadar seperti tukang sensus?

Harapannya, penyederhanaan instrumen dan kemudahan akses tidak hanya untuk mengejar target angka akreditasi, tetapi untuk meningkatkan kualitas layanan LKS. Jika tidak, akreditasi hanya akan menjadi sekadar formalitas yang menghabiskan anggaran tanpa membawa perubahan nyata bagi LKS dan LKSA. Semoga hal ini tidak terjadi.

 
 
FaLang translation system by Faboba